Mom Blogger Community

Mom Blogger Community
Member Of MBC

Rabu, 16 September 2015

Laskar Pena Hijau, Sumbangan Untuk Bumi



Sebagai manusia yang telah bertahun-tahun menempati bumi ini, pernah gak terpikirkan oleh kita untuk peduli menjaga lingkungan bumi dengan serius? Tentu jawaban itu berpulang pada diri kita masing-masing. Padahal sumbangan sekecil apapun itu dalam rangka menjaga dan memelihara lingkungan bumi, akan sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup kita kelak. Minimal dengan menjaga lingkungan sekitar rumah kita masing-masing. Cara lainnya peduli pada bumi salah satunya lewat gerakan Laskar Pena Hijau. Sebuah gerakan yang dibentuk untuk mengkampenyakan peduli lingkungan lewat tulisan. Latar belakang dibentuknya gerakan ini akibat keprihatinan melihat Bumi yang makin merana dan kian meringis. 


Lihat saja, belakangan ini sering terjadi bencana alam, akibat melakukan perambahan hutan secara liar dan besar-besaran yang berdampak pada gundulnya hutan. Padahal jika hutan tak ditanami lagi setelah ditebang, maka hutan yang gundul tadi saat terkena terik matahari, tanahnya menjadi rapuh dan berongga. Begitu hujan besar datang, maka terjadilah pengikisan tanah (erosi). Akibatnya sejumlah tanah terbawa aliran air yang mengakibatkan terjadinya tanah longsor. Bahkan penambangan untuk mencari bahan tambang itu sendiri, tanpa diikuti dengan memperbaiki lingkungan sisa penambangan sesudahnya. Untuk itulah manusia harus bertindak untuk menyelamatkan bumi, rumah manusia satu-satunya. Tidak ada kata terlambat. Akhirnya Yayasan Bhakti Suratto/YBS (yang menaungi Sekolah Alam Cikeas, Rumah Sehat Cikeas dan Rumah Peduli Anak TKI) bersama Sekolah Menulis Kreatif Indonesia (SMKI) dan Rayakultura, menunjukkan kepedulian terhadap bumi dengan membentuk Laskar Pena Hijau (LPH), di kampus Sekolah Alam Cikeas – Puri Cikeas.

Maka, diadakanlah seleksi untuk mendapatkan beasiswa pelatihan Laskar Pena Hijau. Pelatihannya sendiri dimulai tanggal 22 Agustus 2015 dengan 6 kali pertemuan. Awalnya hanya merekrut 30 peserta, namun antusias yang mendaftar mencapai 40 peserta. Sampai akhirnya yang resmi ikut 34 peserta, dimana 16 peserta berasal dari dalam, selebihnya berasal dari luar. Bertempat di Sekolah Alam Cikeas, pelatihan pun berlangsung setiap hari sabtu selama 3 jam. Mulai dari pukul 09.00-12.00 siang di aula sekolah. Ketua Umum YBS – Suratto Siswodihardjo mendukung penuh gerakan ini. “Selama ini kami sudah melakukan gerakan peduli hijau dengan membangun Sekolah Alam Cikeas pada 2006 lalu. Kini kami ingin terus melakukannya dengan fokus pada konservasi alam, konservasi manusia dan konservasi budaya…”



Laskar Pena Hijau adalah komunitas penulis (sastra dan non sastra) yang peduli terhadap lingkungan hidup. Mereka akan menulis beragam isu tentang lingkungan, juga bermain drama dan pentas, pembacaan puisi serta gerakan langsung pro lingkungan seperti penanaman pohon dan pembersihan sampah. Setelah selesai pelatihan, seluruh anggota Laskar Pena Hijau wajib menulis dan mengkampanyekan semangat kepedulian terhadap lingkungan, melalui beragam media massa, internet dan media sosial. Bukan tanpa alasan bila menulis dipilih sebagai salah satu cara mengkampanyekan peduli lingkungan. Menurut pengelola Sekolah Menulis Kreattif Indonesia – Dodi Mawardi mengungkapkan, gerakan peduli lingkungan sangat tepat jika digaungkan melalui tulisan, baik sastra maupun non sastra. “Tulisan memiliki efek yang luar biasa. Maka, sungguh tepat jika gerakan peduli bumi dikampanyekan lewat tulisan. Kita punya banyak penulis hebat, yang jika disinergikan untuk tujuan mulia, maka haslnya akan luar biasa!”
 

Pelatihan yang digawangi oleh Dra. Naning Pranoto ini sebenarnya di tahun 2006 sempat tercetus.  Akan tetapi karena adanya kendala waktu dsb, hingga baru di tahun 2015 ini bisa terlaksana. Tentu saja Naning Pranoto, motor penggerak sastra hijau lewat Rayakultura.net ini mengaku gembira dengan kerjasama dan pembentukan Laskar Pena Hijau.  Menurutnya,  “Cukup sulit mencari pihak yang mau mendukung gerakan sastra hijau. Saya bersyukur bisa bekerja sama untuk merawat dan melestarikan bumi, rumah kita satu-satunya.” Dra Naning Pranoto sendiri selain seorang penulis senior, trainer, sastrawan, juga aktivis pelestarian lingkungan dan dosen di sebuah fakultas yang mengajar tema sastra hijau. Kepeduliaannya pada lingkungan sudah ia terapkan sendiri dilingkungan rumah dan sekitar tempat tinggalnya. Banyak pohon-pohon dan tumbuhan hijau di halaman rumah beliau. Hingga oleh warga sentul, tempat tinggalnya beliau dijuluki Ibu Pohon.  Jadi, tak perlu diragukan lagi kompetensi dan dedikasinya pada bumi. 


Sekolah Alam Cikeas tepat dipilih sebagai lokasi pelatihan, karena sejak tahun 2006 sudah lebih dulu menerapkan peduli hijau dan lingkungan. Kita bisa mendapati tersedianya tempat sampah di sekolah sesuai jenis sampahnya. Jadi tidak sembarangan membuang sampah dengan memisahkan sampah organik dan non-organik. Selain itu, kantin sekolah juga bebas dari minuman bersoda. Makanan yang dijual pun harus bebas pengawet. Bahkan toiletnya pun benar-benar terjaga kebersihannya. Laskar Pena Hijau yang diadakan di Sekolah Alam Cikeas ini, bukanlah gerakan yang pertama berdiri. Sebelumnya sudah ada gerakan Laskar Pena Hijau, hanya anggotanya seputar wartawan saja. Baru inilah anggotanya dari berbagai profesi mulai dari penulis, wartawan, guru dan ibu rumah tangga. Rencananya Pelatihan Laskar Pena Hijau akan diadakan setiap tahunnya, hingga akan ada seasion kedua, ketiga dst. 


Dalam mengenalkan Laskar Pena Hijau pada masyarakat, gerakan ini akan terus mengkampanyekannya lewat Facebook, Twitter dan Website. Dimana website resmi gerakan ini akan diluncurkan pada hari pohon tanggal 21 Nopember 2015. Rencananya selain kampanye lewat internet, kedepannya Laskar Pena Hijau juga akan melakukannya secara konvensional yaitu lewat menerbitkan buku, televisi dan radio. Harapannya Laskar Pena Hijau dan anggota yang sudah terpilih mendapatkan beasiswa,  menjadi ujung tombak untuk mengkampanyekan peduli hijau pada khalayak umum. Tentunya setiap anggota haruslah memiliki karakter yang tangguh, kuat dan terus menerus. Namun gerakan ini tidak bergerak eksklusif, tapi juga terbuka untuk siapapun dan dari kalangan manapun. Dimana sasarannya mulai dari anak-anak hingga orang tua. Harapannya orang tua mau mengajarkan pada anak-anaknya tentang peduli hijau dan lingkungan. Sementara bagi anak-anak bisa ikut menyebarkan ke teman-temannya gerakan peduli bumi hijau ini.

Menyongsong Indonesia International Green Writer Festival thn 2016, Laskar Pena Hijau telah menyiapkan berbagai kegiatan berupa diskusi, seminar, workshop, pameran dan bedah buku. Terselenggaranya Indonesia International Green Writer Festival thn 2016 ini merupakan yang pertama kali di dunia. Mengundang penulis-penulis International yang dibantu oleh Rayakultura.net. Harapannya dalam festival ini akan bertemunya penulis Indonesia dan dunia bergabung. Oh ya, gerakan Pena Hijau sendiri telah dimulai lebih dulu di Brazil. Dimana Brazil telah memulai aksi mereka cinta akan lingkungan dengan menciptakan bahan bakar dari tumbuhan. Ke depannya gerakan Laskar Pena Hijau juga akan menggandeng DPR, menteri dan perusahaan yang peduli hijau. Jadi kesimpulannya, mari kita perlakukan bumi sebagai tempat tinggal kita, dengan menjaga lingkungan bumi itu sendiri sebaik-baiknya. Sebab bila bumi ini sudah rusak, adakah bumi lain yang bisa kita tempati? Lewat aksi sekecil apapun salah satunya lewat gerakan Laskar Pena Hijau ini.



Referensi:
Koran kompas
Buku pendidikan lingkungan hidup kelas 3 SD
https://dodimawardi.wordpress.com/Laskar-Pena-Hijau