Kamis, 06 Oktober 2016

Ibu Depresi Dan Penganut Aliran Kebathinan



Baru-baru ini kita dikejutkan oleh berita seorang ibu yang tega memutilasi anaknya. Sontak para ibu bergumam kok tega? Anak adalah belahan jiwa yang seharusnya disayang dan dilindungi. Tapi mengapa seorang ibu malah tega menyakiti anaknya bahkan sampai membunuhnya? Lalu terbersit tanda tanya di pikiran kita apakah ibu yang melakukan itu sadar atau karena menganut aliran tertentu? Atau karena pengaruh bisikan-bisikan iblis sehingga ibu tersebut gelap mata? 
Menurut penilaian saya, salah satu penyebab seorang ibu mudah depresi karena selama ini menganut aliran kebathinan! alias suka memendam perasaan sendiri dan berharap orang lain termasuk suaminya tahu tanpa diberitahu. Disini letak masalah besarnya! Karena saya sendiri pernah menganut aliran ini hingga pernah terserang depresi. Tapi sekarang sudah tobat memendam-mendam alias merasa gak enak ama suami, takut dibilang isteri yang suka mengeluh dsb. Apalagi ditambah tuntutan harus bisa menjadi isteri yang soleha. Ternyata prasangka saya selama ini salah. Padahal suami saya bukanlah peramal yang bisa menebak-nebak apa isi hati dan keinginan isterinya.


Dalam hubungan suami-istri, perasaan kurang berkenan terhadap pasangan pasti pernah dirasakan. Biasanya perasaan itu berkaitan dengan perilaku atau kebiasan buruk pasangan. Perbedaan karakter dan kepribadian tidak jarang menimbulkan friksi, misalnya sang istri memiliki sifat yang sensitif atau peka, sementara sang suami seorang yang kasar dan cuek. Kesalahan suami-istri ketika menghadapi perasaan tidak nyaman atas pasangan masing-masing adalah memilih DIAM. Masing-masing hanya memendam perasaan di dalam hati yang kemudian dikenal dengan istilah “aliran kebatinan”. Padahal dalam pernikahan, komunikasi yang baik sangat diperlukan, salah satunya dengan mengungkapkan secara langsung tentang apa yang kita rasakan kepada pasangan.


Ungkapan atau keluhan yang kerap muncul di antara pasangan penganut aliran kebatinan adalah, 


“Harusnya kan dia tahu apa yang saya pikirkan.” Atau, 

“Daripada ribut, mending saya diam saja.” 


Jadi, masing-masing tidak saling mengutarakan apa yang dipikirkan dan dirasakan kepada pasangannya secara terbuka. Hal inilah yang bisa memicu datangnya depresi, akibat harapan dan isi hati yang tidak tersampaikan. Sehingga tak bisa terealisasi dan mendapat dukungan.


Sejatinya setiap perasaan butuh untuk diungkapkan, dieskspresikan, dikeluarkan, diakui, dan dicarikan solusinya. Sebab dampak jangka panjang ketika suami atau istri atau keduanya menganut aliran kebatinan dalam berkomunikasi akan menyebabkan :

- pasangan akan merasa kurang diperhatikan;
- memadamkan keinginan pasangan untuk melakukan hal-hal positif, seperti mengungkapkan rasa sayang, rasa terima kasih, bahkan rasa kekaguman terhadap pasangan;
- suasana dalam pernikahan akan semakin hambar dan dingin;
- akan menjadi bom waktu akibat salah satu atau keduanya selalu mengalah dengan memilih diam daripada ribut. Hingga memicu kebencian dan kemarahan terpendam yang mengakibatkan anak-anak menjadi korban. Sebagaimana kasus banyaknya ibu yang depresi lalu membunuh anak kandungnya sendiri akibat kelelahan fisik dan psikis tanpa pemecahan. Penjelasan lebih detail tentang aliran kebathinan dan bagaimana berkomunikasi yang tepat ada dalam buku saya ini.



Sebagai ibu, kita adalah jantung sebuah rumah. Jadi bagaimana seisi rumah bisa bahagia? Bila ibunya tidak pernah merasakan bahagia. Untuk itulah perlunya keterbukaan terhadap pasangan, agar bisa saling mengerti dan bekerjasama dalam membangun sebuah keluarga. 

Bagaimana bila setelah diutarakan pasangan tetap tidak ngeh atau mengerti dan peka terhadap masalah kita? Disinilah perlunya cara yang tepat kapan kita menyampaikan keluhan dan uneg-uneg yang terpendam. Misalnya saat suami lagi santai atau relax. Bukan saat baru pulang kerja langsung dibombardir dengan keluhan. Padahal suami masih capek dan butuh istirahat. Kalau perlu, ajak suami pergi berdua entah nonton atau makan berdua saja. Sehingga bisa lebih santai dan leluasa untuk berbicara. Titipkan anak sebentar pada keluarga yang bisa dipercaya. Cara lain bisa dicoba sehabis berhubungan intim, dimana pikiran suami sudah dalam keadaan benar-benar relax dan senang. Jangan menunda-nunda lagi dengan alasan gengsi, males dsb demi keharmonisan hubungan dan anak-anak. Kalau masih sulit juga, coba dengan menulis dalam bentuk surat. Mengapa tidak? karena komunikasi tidak hanya dalam bentuk verbal saja tapi juga nonverbal. Intinya jangan ada lagi jarak dan saling jaim diantara kita (yaitu antara suami dan isteri) .


10 komentar:

  1. Semoga kita bisa selalu menjaga hubungan baik dengan suami ya mbak

    BalasHapus
  2. Betul mba, akupun sedang menjalani untuk ungkapkan apapun ke suami :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. mak herva sebaiknya begitu sebelum terlambat

      Hapus
  3. Masalahnya memang ada di komunikasi suami istri ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. yoi mbak leyla ibarat mobil, rodanya ibarat komunikasi dlm sebuah hubungan agar bisa jalan

      Hapus
  4. Salam kenal mb..mak jleb dengan point "dari pada ribut mending saya diam" karena kadang utk menghindari ribut2 hal itu sering dilakukan..pdhl kadang ribut2 itu perlu ya..dlm rangka saling memahami dan menghindarkan hambatan komunikasi di kemudian hari...tulisan yang bagus...

    BalasHapus
  5. Betul memang seharusnya saling terbuka satu sama lain. Itu idealnya. Tp terkadang ada hal2 tertentu yg membuat suami/istri merasa lebih baik diam seribu bahasa. Utk menghindari depresi, coba adukan semua yg afa di hati pada Allah. Keluarkan semua uneg2 sampai nangis2 sekalian. Percayalah bahwaAllah ada di dekat kita. Mel8hat dan mendengarkan kita. Kalau kita percaya, insyaAllah hati jd plong. Pikiran tenang dan terang. Dan semoga jadi tethindar dr depresi

    BalasHapus
  6. Mohon maaf bukannya ingin menggurui. Hanya sekedar berbagi karena sy pernah ada di posisi itu😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju mama rita jgn lupakan juga curhat pada sang pemilik jiwa kita yaitu Allah selain pada orang2 terdekat ya:)

      Hapus