Sabtu, 16 Desember 2017

Serial Kisah Menguak Monster Di Keluargaku


Daun Yang Jatuh, Haruskah Membuat Pohon Bersedih?




Ketika jiwa berada dalam titik gamang malam, kecemasan menganak senandung. Esok pagi, disibukkan dengan memburu semangat hidup. Melewati debu-debu waktu. Mari kita lihat di sana. Sekumpulan insan justru berlomba-lomba. Mengejar semangat mati!  Dalam balutan indah bernama jihad. Karna surga yang indah tlah berjanji. Kini, lihatlah kembali, kenyataan yang banyak terjadi. Di wajah-wajah  yang tercetak keraguan dengan sebuah tanya,  mengapa harus mengingat mati? Selama kenikmatan dunia masih dalam genggaman. Aku ingin hidup seribu tahun lagi. Aihhhhhh......Mendadak amnesia, dengan sahabat terdekat bernama kematian. Hingga lupa bersiap-siap, dengan kedatangannya yang sudah ditentukan. Tiada guna berlindung di balik benteng yang tinggi lagi kokoh. Ataupun menaiki tangga langit ketujuh sekalipun. Karena sejatinya, batasnya sudah ditetapkan, bagi  yang masih memiliki kontrak dengan kehidupan.

Kususuri hutan mini yang dipenuhi pohon-pohon berusia ratusan tahun di sekelilingku. Aku terpaku di depan sebatang pohon yang tegak berdiri dengan beberapa daunnya yang mulai menguning. Daun menguning itu terlihat masih betah bertengger di dahan, sebelum takdir memutuskannya untuk luruh ke bumi. Begitu akhirnya beberapa helai daun jatuh, haruskah membuat pohon bersedih? Sebagaimana diriku yang kembali diingatkan oleh sebuah kabar duka yang menyayat hati. Lagi dan lagi salah satu kakak lelakiku pergi untuk selama-lamanya. Rasa kehilangan yang menyakitkan itu kembali menghampiri. Rasa yang mampu menenggelamkanku ke dalam arus deras hidup tanpa harapan, disaat satu persatu anggota keluarga terenggut dari kehidupan. Hilang dan kembali ke haribaan Tuhan dengan cara tragis dan meninggalkan sebentuk trauma mendalam. Andai satu kehilangan meninggalkan sebuah lubang trauma dihatiku, maka ada banyak lubang kini yang terbuka menganga.

Pertama kehilangan kakak sulungku yang merupakan anak kebanggaan keluarga termasuk bagi Mande (ibu) ku. Anak yang begitu istimewa menurut Mande karena sedari kecil selalu mengukir prestasi hingga akhirnya bisa mendapatkan bea siswa keluar negeri. Namun disaat hidup Uda yang kami banggakan mencapai puncak kejayaannya, monster itu seenaknya merenggutnya. Setelah sebelumnya dia juga merenggut Uda (abang) kedua yang dikenal sangat dermawan dan ramah semasa hidupnya, hingga diriku dan begitu banyak orang menangis menatap jasadnya. Bahkan ketika hendak dimakamkan, berduyun-duyun teman, kaum kerabat mengerubunginya. Begitu juga orang-orang yang hendak menshalatinya di mesjid, berebut tempat hingga penuh sampai keluar halaman. Seolah-olah mereka tak ingin melewatkan hari terakhir bersama sebelum dimakamkan. Dan korban berikutnya Mande (ibu) yang sangat kami sayangi dan kagumi. Mande sosok yang luar biasa bagi kami karena ketabahannya merawat sebelas orang anak di tengah kesulitan ekonomi.
Kerap kusesali, mengapa Tuhan tak pernah mencegah disaat monster itu datang mengunjungi satu persatu orang yang kucintai? Lalu membawa mereka pergi dengan cara yang tak ingin kami ingat seumur hidup karena begitu menyakitkan. Monster yang telah meninggalkan bekas trauma dihatiku dan keluargaku, hingga kecemasan dan ketakutan selalu menggelayutiku. Yah monster yang sedikitpun tak mengenal rasa cinta saat sudah berhadapan dengan korbannya. Mengapa oh mengapa? Sang Pemilik hidup tak mengulurkan pertolongan dan keajaibannya? disaat Monster itu telah semena-mena menyakiti dan mengambil paksa orang-orang terbaik dikeluargaku.
Pernah tiba-tiba di suatu pagi aku tersentak kala sebuah bisikan malaikat menenangkanku
. “Kamu harus ikhlas kehilangan keluargamu, karena mereka sudah tenang di alam sana. Surga telah menanti mereka karena apa yang mereka alami telah menggugurkan dosa-dosa mereka.”
Namun, aku tetap mengutuk waktu dan tidak terima akan kehilangan bertubi-tubi yang menimpaku. Menyesali diri dan merasa bersalah adalah perasaan yang teramat dalam kurasakan, selain rasa kesedihan yang melemahkan hatiku. Mengapa harus mereka? Ibu dan kakak kakakku? Bukan orang lain. Tanya itu terus terngiang di benak ini. Rasa cemas pun mendera bila mengingat kematian itu sangat dekat pada keluargaku. Sebuah wujud berupa ketakutan yang amat sangat menjelma. Beranggapan bahwa suatu hari akankah diriku juga akan meninggal karena monster itu? Bahkan hingga kini diri ini selalu berat untuk melangkah ke makam almarhum ibu dan ketiga kakak lelaki itu. Membuat rasa cemas itu kian besar menghinggapi. Kalau sudah begitu,  rasa pesimis  dan semangat hidupku pun menurun drastis. 



Bersambung .....
Tunggu kisah berikutnya dalam menguak monster yang telah merenggut satu-persatu anggota keluarga yang kucintai....



16 komentar:

  1. Mbaaaak. Ya Allah.... Nangis aku baca ini 😭😭😭

    BalasHapus
  2. Monster apa mbak? Jadi penasaran. Ini kisah nyata?

    BalasHapus
  3. iya mbak ini kisah nyata keluargaku

    BalasHapus
  4. turut berduka cita ya mbak... ditunggu cerita selanjutnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mak retno akan saya coba makasih ya😊

      Hapus
  5. Ikut sedih bacanya mba :( .. Monster apa yg dimaksud di sini.. Ditunggu lanjutan kisahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mak fanni baiklah akan saya kumpulkan kekuatan utk menulis kembali kisah yg sebenarnya tidak ingin saya ingat😥

      Hapus
  6. Turut berbelasungkawa ya mbak, semoga keluarga diberi ketabahan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin mak apriliana makasih dukungannya😅

      Hapus