Minggu, 11 November 2018

Pentingnya Peran Ayah Bagi Perkembangan Karakter Anak


“Urusan rumah tangga dan mengurus anak kan tugas para
ibu, kami ayahnya hanya bertugas mencari nafkah. Kalau kami
juga ikut mengurus pekerjaan rumah tangga, lantas siapa yang
mencari uang? Padahal tanpa uang mana bisa membeli keperluan
anak seperti susu dan keperluan rumah tangga lainnya.”

Mungkin kita sering mendengar para ayah berdalih seperti ini. Tanpa bermaksud menggurui, sebenarnya para ibu bukan melarang suaminya bekerja dan menyuruhnya menggantikan tugas di rumah. Hanya saja para ibu ingin para ayah juga ikut ambil bagian dalam membesarkan anak. Jangan sampai pekerjaan menyita seluruh waktu para ayah sehingga tak punya waktu untuk ikut mendampingi tumbuh kembang anaknya. Sejatinya, pengasuhan anak memang tugas para ibu, tetapi untuk penanaman nilai-nilai mutlak merupakan tugas dari para ayah.

Al-Qur’an pun mengabadikan Luqman al-Hakim sebagai sosok orangtua teladan yang mendidik anaknya berdasarkan prinsip tauhidullah dan akhlak yang mulia. Luqman sendiri bukanlah seorang nabi, melainkan seorang wali Allah SWT yang shaleh, berakhlak mulia, berpengetahuan luas, dan tidak banyak berbicara, tetapi bila berbicara ia pandai mengungkapkan kata-kata yang penuh hikmah. Oleh karena itu, dikenallah nasihat-nasihat Luqman pada anaknya yang diabadikan dalam Al-Qur’an.

Kita juga mengetahui bahwa Rasulullah SAW adalah sosok ayah teladan. Jadi, jelaslah bahwa tugas utama mendidik anak adalah tugas seorang ayah karena mereka adalah pemimpin keluarga yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Bila istri dan anaknya berbuat dosa dan kerusakan selama di dunia, maka ialah yang akan menanggung siksanya.

Namun, kondisi jam kerja yang tinggi pada saat ini telah membuat para ayah memiliki waktu yang sedikit untuk ikut terlibat dalam mendidik anak. Subuh, saat anak-anaknya masih tidur, mereka sudah berangkat kerja dan baru pulang larut malam, setelah anak-anaknya terlelap. Hal tersebut banyak terjadi di kota-kota besar. Seandainya bisa, para ibu ingin agar suaminya memangkas jam kerjanya sehingga bisa pulang lebih cepat. Namun apa daya, itulah fenomena kehidupan saat ini.Akan tetapi, jika ada kemauan dan rasa cinta, sebenarnya para ayah masih bisa ikut andil dalam mendidik anak, misalnya pada saat hari libur kerja. Di samping kesibukan para ayah, adanya krisis peran ini terjadi karena sejak dahulu memang sangat sedikit contoh figur ayah teladan di negeri Indonesia.

Hal ini dapat dilihat dari banyaknya ibu yang mengeluh dengan mengatakan, “Sebenarnya kami para ibu lebih capek karena bekerja sepanjang hari tanpa cuti, dibandingkan para suami yang masih diberi libur dari kantor.” Bahkan Majalah Ummi mengangkat masalah peran ayah di rumah dalam topik utama “Ayahku Guruku”. Ternyata banyak dari para suami yang belum mau terlibat aktif dalam proses pengasuhan dan pendidikan untuk mencerdaskan buah hati di rumah. Dikatakan, “Keterlibatan ayah di rumah (di luar urusan ekonomi) kian menipis. Mereka merasa telah menjadi ayah hanya dengan menjalankan peran sebagai pencari nafkah (apalagi sang ibu diam di rumah, tidak bekerja). Hal ini menjadikan anak-anak terbiasa tumbuh tanpa mereka.” Belum lagi para ayah yang lebih suka membawa pekerjaannya lengkap dengan stresnya ke rumah. Menjadikan para ayah menjadi pribadi yang cuek, tidak mau ambil porsi lebih besar dalam mendampingi anak-anaknya tumbuh.

Yang lebih tragisnya, para ibu sering memarahi anaknya sambil berkata, “Awas, Ibu bilangin ayah, tahu rasa kamu!” Seolah-olah para ayah zaman sekarang dijadikan alasan
untuk menakuti anak, bukan sebagai pendamping atau teman sejati. Padahal menurut Elly Risman, Psi., seorang psikolog, kehadiran ayah dalam mendampingi tumbuh kembang anak dapat membuat mereka merasa lebih berarti, selain membentuk pribadi yang tangguh dan penuh inisiatif. Walaupun banyak ayah seperti yang dipaparkan di atas, tetapi masih ada beberapa orang ayah yang care pada anaknya, terutama dalam hal mendidik anak. Kita bisa melihat contohnya dari seorang tokoh anak yang begitu dicintai seperti

Kak Seto, yang begitu peduli pada dunia perkembangan anak, dan seorang ayah sekaligus penulis buku yang kita kenal dengan sebutan Ayah Edy. Ayah Edy, yang juga seorang praktisi dan konsultan pendidikan anak, mengatakan, “Semua berawal dari keluarga. Ya, keluarga! Organisasi inti terkecil yang sering dilupakan banyak orang, termasuk yang membina keluarga itu sendiri.

” Kak Seto dan Ayah Edy adalah sedikit contoh ayah yang begitu peduli dan mencintai anaknya tanpa terganggu sama sekali dengan perannya sebagai pencari nafkah.



Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Rasulullah SAW pun telah mencontohkan sikap terbaik dalam menjalankan perannya sebagai seorang ayah. Beliau amat dekat dengan putrinya, Fatimah az-Zahra, hingga sering beliau mencium kening putrinya itu. Begitu pun Fatimah, ia tak pernah segan menumpahkan curahan hatinya kepada beliau. Kedekatan itu digambarkan dengan suatu julukan untuk Fatimah, yaitu Ummu Abiha (Ibu bagi ayahnya). Tak heran jika karakteristik Fatimah mirip sekali dengan Rasulullah SAW.

Ya, di dalam Al-Qur’an juga disebutkan adanya dialog antara anak dengan ayahnya, bukan dengan ibunya. Hal ini terlihat dalam dialog Nabi Ibrahim AS dengan putranya Ismail dan nasihat Luqman kepada anaknya. Sebagaimana disebutkan oleh Syekh Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam buku Pendidikan Anak dalam Islam yang menyebutkan bahwa ayah memiliki peran yang sangat sentral dalam hal pembentukkan kepribadian seorang anak. Sebuah lagu ciptaan Bimbo pun menunjukkan kedekatan antara anak dan ayah, yaitu dari liriknya yang berbunyi:

"Ada anak bertanya pada bapaknya. "

Untuk menjadi ayah yang mampu mendidik dan membina anak-anaknya, tentu saja
dibutuhkan bekal yaitu ilmu, iman, dan takwa. Dengan begitu, tugas menjadi ayah tak lagi dirasa berat bila sudah memiliki ketiga hal pokok tersebut.

Dalam buku Tanya Jawab Seputar Masalah Perilaku Anak,
Vera Itabiliana K. Hadiwidjojo, Psi., memberi beberapa trik
yang bisa dicoba untuk mendekatkan anak dengan ayah sejak
balita, yaitu:

1. Usahakan ayah hadir dalam aktivitas rutin anak sehingga
anak terbiasa dengan kehadiran ayah. Misalnya, sesekali
makan bersama di meja makan pada akhir pekan atau
sesekali ayah bisa ikut memandikan anak.


2. Ciptakan komunikasi rutin meski ayah tidak ada di rumah,
misalnya menelepon ke rumah pada saat jam istirahat
kantor, sekadar agar anak mendengar
suara ayah.

3. Luangkan waktu sepulang dari kantor untuk bermain
bersama anak. Biasanya anak laki-laki sangat menyukai
main kuda-kudaan, dengan ayah sebagai “kudanya”.
Jika sempat, luangkan pula untuk ritual ini di pagi hari sebelum
berangkat ke kantor. Selain bermain, kedekatan juga bisa terjalin dalam aktivitas lain, misalnya ayah membacakan buku cerita untuk anak.

4. Ayah juga perlu menjaga perasaan anak ketika sedang
berdua saja dengan anak. Kebanyakan ayah mungkin
merasa khawatir atau gelisah ketika berdua saja dengan
anak (takut anak ngompol dan sebagainya). Kegelisahan
ayah ini bisa tertangkap oleh anak sehingga membuat
anak merasa tidak nyaman.

5. Berikan kesempatan pada anak untuk ikut dalam aktivitas
rutin ayah, misalnya mencuci atau mengutak-atik motor meskipun ia hanya melihat saja. Saat itu ayah bisa mengajaknya bicara tentang apa yang sedang ayah lakukan.

Biarkan anak bertanya dan usahakan tidak terlalu banyak larangan agar anak menikmati kebersamaan dengan ayahnya. Lantas bagaimana dengan para single parent? Mampukah
mereka menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya? Sebagai contoh, Rasulullah SAW sejak kecil telah menjadi yatim piatu, yetapi beliau bisa tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan  penuh teladan.

Saya pun sejak kecil juga sudah menjadi yatim. Ibu saya juga bukan seorang yang hebat untuk bisa menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Namun, saya bisa merasakan jika Allah SWT telah turut campur dalam membesarkan saya hingga bisa tumbuh seperti sekarang ini. Mungkin juga dalam membesarkan kami, ibu saya meminta kekuatan dari AllahSWT melalui doa-doanya.

2 komentar:

  1. Zaman dulu emng gitu bgt y mb
    Bapak kerja
    Ibu ngurus anak
    Dah
    Seolah sendiri2
    Alhamdulillah sekarang nih fleksibel mungkin krn banyak yg apdet ilmu juga
    Bersyukur suamiku sejauh ini mau melibatkn diri
    Anakku jg deket sm bapake
    Doakan y mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya miyosi apalagi di jaman yg makin edan kayak sekarang ngeri kalau ayahnya cuek2 aja

      Hapus