Kamis, 08 Oktober 2020

Ketika Pasangan Jatuh Cinta Lagi

 


Sekali lagijika ujian cinta adalah waktu, maka jawabannya adalah kepribadian--anis matta dalam serial cintanya

Tentu kita masih familiar dengan lagunya titik puspa jatuh cinta berjuta rasanya.Yups! jatuh cinta menurut pakar neurobilogi akan mengaktifkan pusat rasa senang diotak Sehingga secara neurobiologi mampu melepaskan beberapa hormone seperti dopamine yang membuat sesorang terlihat lebih ceria. Hormon serotonin yang menimbulkan perasaan senang dan mood yang baik. Jatuh cinta juga bisa membuat seseorang mengalami perubahan mood /suasana hati yang relative cepat.  Kadang senang, lalu tiba-tiba berubah menjadi khawatir, bingung tanpa alasan, susah tidur, dan jantung berdetak lebih cepat. Ciri lainnya mendadak enggak nafsu makan dan seolah punya dunia sendiri.  

 Namun apa jadinya bila kita jatuh cinta lagi pada orang lain atau sebaliknya pasangan kita yang jatuh cinta lagi pada lawan jenis. Ini sudah merupakan masalah yang sangat serius karena keutuhan rumah tangga lah yang jadi taruhannya. Meskipun ada sebagian yang memilih untuk tak menceraikan pasangannya dengan jalan poligami. Tapi tetap saja rasa sakitnya sama karena pasangan sudah merasa diduakan cintanya. 

Ada beberapa hal yang menyebabkan pasangan jatuh cinta lagi diantaranya

Tergoda oleh lawan jenis yang dirasa memiliki kelebihan lebh dibandingkan pasangannya. Sedangkan pria bisa karena tergoda  melihat kecantikan wanita lain dibandingkan istrinya.  

Bisa jadi karena pasangan tak lagi memiliki sifat yang dibanggakan seperti pada awal berumah tangga. Misalnya tak lagi lembut, penyantun, dan luwes seperti dulu. 

Karena suami tak lagi memenuhi tanggung jawabnya sebagai suami dan kepala keluarga.


Kisah dibawah ini merupakan salah satu contoh pasangan yang jatuh cinta lagi pada orang lain. 

Aku Mela, seorang wanita muda, sweet 27. Putriku satu, Bulan namanya. Tiga tahun usianya. Masih lucu-lucunya. Suamiku bernama Bramanto, aku memanggilnya Mas Bram. Dia bekerja sebagai tenaga honorer di PEMDA kota industri ini. Gaji Mas Bram masih jauh dari cukup untuk hidup di kota besar. Sedangkan aku bekerja di sebuah perusahaan swasta bagian administrasi merangkap orang kepercayaan Big Bos sehingga tugasku menjadi bejibun. So, tidak mengherankan jika bukit-bukit berkas menjadi pemandangan indah di mejaku setiap hari.

Aku menikah dengan Mas Bram berdasar cinta, Mas Bram pria pilihanku. Kami berkenalan di bangku kuliah. Hubungan kami berjalan lancar, kedua keluarga menyetujui. Kami pun merajut impian untuk membentuk keluarga sakinah. Meskipun saat menikah aku tahu kondisi keuangan Mas Bram belumlah bagus, tapi aku yakin kami pasti bisa melaluinya dengan sangat indah. Tapi ternyata hal itu tidaklah seindah bayangan. Semua harus kulalui dengan berliku dan berpeluh.

Hidup di kota besar seperti ini, semua memerlukan money. Semua diukur dengan uang. Biaya transport pun tinggi karena tidak mungkin aku naik sepeda ke kantor seperti kebiasaanku di kampung. Di kota terlalu ramai dan jarak tempuh terlalu jauh. Sementara untuk membeli sepeda motor, aku belum sanggup.

Biaya hidup juga semakin hari semakin mencekik. Susu Bulan, biaya kesehatan, segala macam tagihan  bahkan buang sampah pun bayar. Benar-benar high cost living. 

Beruntung sekali aku, Allah masih menyayangiku.  Aku  menduduki posisi yang strategis dan menjadi kepercayaan atasanku. Namun semua itu pasti ada konsekuensinya. Waktu untuk keluarga, terutama untuk Bulan tersita cukup banyak. Aku tak dapat mendampingi setiap perkembangannya. Aku harus berangkat ke kantor jam 7 pagi setelah memandikan dan menyuapinya. Pulang setelah Bulan terlelap bersama buaian mimpi indahnya dalam dekapan hangat Mas Bram. Kecupan rindu yang tertahan seharian selalu singgah di pipi Bulan nan lembut dan montok setiap malam. 

Seringkali percekcokan terjadi antara aku dan Mas Bram di keheningan malam, setelah Bik Ana pulas dalam tidurnya. Seperti yang terjadi ketika aku kehabisan uang bulan lalu.

Mas, tidak ada lagi rupiah di dompetku, keluhku pada Mas Bram.

Suamiku yang sedang menyeruput kopi terdiam. Diletakkannya kopi kental itu di meja. Pandangan matanya kosong.Kamu ingin aku berbuat apa?

Aku ingin kamu lebih berperan Mas. Aku tidak sekuat yang kamu lihat, suaraku bergetar. Air mata sudah mengantri di pelupuk mata.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Hutangku ke kantor sudah menumpuk, jawaban Mas Bram membuatku makin sesak. Ah, rupanya aku harus berjuang sendiri lagi. Menegakkan rumah tangga ini dengan keringatku sendiri.

Baiklah Mas. Memang harus aku yang menanggung semua ini, aku menangis sesenggukan dan berlari ke kamar. Kututup pintu dan kupeluk Bulan. Bulan, beri Bunda kekuatan. Kudengar Mas Bram mengetuk pintu, tapi kututup rapat-rapat telingaku. Aku ingin menenangkan diri sejenak.

Esok harinya aku sudah mengantri di pegadaian. Cincin perkawinan kami terpaksa aku gadaikan. Sedih memang karena cincin ini adalah cincin kesayanganku. Hhh.. kuhela nafas panjang.

 Sebagai wanita biasa, kadang aku merasa rapuh dan tidak sekuat yang orang lihat. Aku ingin dimanja dalam materi. Ingin 24 jam berada di dekat Bulan. Ingin rileks dalam menjalani hidup. Semua keluhan dan tekanan hidupku sering meluap tak terkontrol dan Mas Bramlah tempatku meluapkan semuanya.

Untuk saat ini, kemapanan ekonomi dan kemewahan sebagai istri masih menjadi impian. Impian indah yang entah kapan kan tercapai. Kulangkahkan kakiku ke kran air di belakang rumah. Kuambil air wudlu setiap kali pikiranku mulai kacau. Berserah dan berpikir positif selalu menjadi senjataku. 

Kekurangan yang ada pada Mas Bram, telah membuatku mencari sosok pelengkap. Dengan posisi orang kepercayaan pimpinan, aku dengan mudah bertemu dan berinteraksi dengan multi karakter. Tanpa kusadari, hatiku mulai condong ke sosok kebapakan yang bisa mengerti keadaanku, yang bisa mendengar keluh kesahku, yang bisa memberi jalan keluar bagi semua problemku. Sosok Pak Ananta.

Aku mulai menikmati kedekatan ini. Hal ini berjalan kurang lebih tiga bulan. Hanya sebagai teman, teman yang akrab, teman sharing. Lama-lama aku merasakan sesuatu yang aneh di hatiku. Rasa yang selalu mencari ketika seharian tidak mendengar suaranya. Gelisah tanganku memegang handphone, ingin mengirim sms sekedar menanyakan apa kabar atau makan apa siang ini. OMG, sadar Mel.. sadar dia sudah beristri dan berputra dua. Hati kecilku menjerit. Perlahan-lahan aku menata hati, melupakan teman sharingku selama tiga bulan ini. Membentuk benteng yang kokoh di hati. Hubungan kami harus diluruskan. Just business. Tak lebih.

Langkah untuk melupakan Pak Ananta tidaklah mudah. Setiap kali bertengkar dengan Mas Bram, Pak Ananta selalu ada untukku. Solusi yang menenangkan hati dari mulutnya telah menyejukkan jiwaku. Untuk kedua kalinya aku terbuai dengan kondisi ini. 

Tapi aku harus kuat dan tegar. Meskipun tertatih, aku berusaha melupakan Pak Ananta. SMS terakhir pun kukirim pada Pak Ananta, aku mengakhiri hubungan ini dengan baik-baik demi keutuhan keluargaku. Meskipun dia selalu menolak keputusanku, aku tetap bersikeras dan berusaha untuk selalu tegas.

Beruntung Mas Bram tidak mengetahui hal ini. Jika dia tahu, entah apa yang akan kualami selanjutnya. Kepercayaannya padaku pasti akan pudar, kenangan manis yang telah terjalin selama ini juga akan menguap bagai air di musim kemarau. Dan Bulan pun akan kehilangan kebanggaan akan mamanya. Mamanya harus selalu menjadi wanita setia dan memberi teladan yang baik untuk Bulan.

Hari-hari pun berlalu. Langkahku mulai mantap meniti karier. Penghasilanku mulai bertambah. Biarlah semua ini kujalani. Toh, memang harus begini adanya. Mas Bram juga selalu berusaha bahkan ibadahnya akhir-akhir ini juga makin giat. Selalu bangun malam dan rajin menyambangi rumah Allah. Mas Bram dengan sabar menjaga dan membimbing Bulan di kala aku masih lembur di kantor. Meskipun ada Bik Ana tapi Mas Bram tak lupa meluangkan waktunya untuk Bulan. Ah, imam pilihanku, bagaimana pun keadaanmu, dulu, kini dan nanti, kau tetaplah imamku. Imam yang digariskan Yang Kuasa untukku. Telpon dari ibu mertua pada pagi hari itu sungguh mengagetkanku. Tak kusangka, Mas Bram diam-diam melamar PNS di kota kelahiranku. Dan.. diterima. Hal yang sangat indah. Kutunggu dan tentunya ditunggu pula oleh Mas Bramku. Bulan, ayahmu jadi PNS. (diceritakan oleh Ari Kurnia dari kisah temannya)

Haruskah Bercerai?

Memang tak mudah menerima kenyataan pasangan bisa mencintai orang lain selain diri kita. Padahal selama bertahun tahun kita merasa sudah memberikan segalanya. Sehingga kita pun meminta cerai tanpa memikirkan dampaknya. Yah bagaimana pun yang akan menderita dan menjadi korban perceraian adalah anak anak kita yang tak berdosa. Mereka tak mengerti mengapa kedua orangtuanya tak lagi saling mencintai. Sehingga timbullah trauma psikis dihati anak dengan kehilangan rasa kepercayaan dan empati terhadap orang lain. Anak juga akan tumbuh menjadi pribadi yang rapuh setelah dewasa nanti. Bahkan hanya anak yang menjadi korban loh, sang nenek pun ikut kena getahnya. Kenyataan ini saya saksikan sendiri disekitar rumah saya yaitu terjadinya perebutan cucu jadi bukan hanya perebutan anak.

 Yah, biasanya pasangan yang berseteru dan bercerai akan meributkan soal hak asuh anak. Saya pernah menjumpai bagaimana seorang menantu tak mengijinkan sang nenek untuk menjenguk cucunya karena masih sakit hati atau dendam dengan si suami yang telah mengkhianatinya. Sang nenek pun terpaksa menahan sedih dan kerinduannya untuk bsia berkumpul dengan cucu kesayangannya. Benar-benar mengenaskan mendengarnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar