Jumat, 27 Januari 2017

Chapter Satu 'Rindu Yang Tak Pernah Diam



Disini, di titik pusat pertemuan empat penjuru tanah jawa, kita berjanji untuk menua bersama



Bandara Soekarno Hatta terlihat cerah pagi ini, secerah wajah Rani yang berwarna kuning langsat. Rambut hitam bergelombangnya tergelung indah dan rapi.  Rani melangkah dengan percaya diri menuju si burung besi. Tempatnya bertugas selama beberapa tahun ini sebagai salah satu awak cabin maskapai terbesar. Tubuhnya yang mungil namun proporsional dengan tinggi 158 cm, bergegas menuju pintu pesawat. Akh, kurang 1 cm saja tingginya, maka tak mungkin ia bisa bekerja disini sebagai seorang pramugari bintang 5.

Penghargaan yang ia dapatkan sebagai best cabin crew, adalah sebuah kebanggaan sekaligus beban baginya. Untuk lebih menjaga kinerjanya sebagai pramugari yang senior dan sudah diperhitungkan. Segera ia bersiap-siap menaiki pesawat, sebelum menyambut penumpang yang akan berangkat menuju Christchurch, salah satu kota terbesar di Auckland. Dimana sebelumnya penerbangan singgah dulu di Kuala Lumpur.  Negara yang sudah lama ingin ia kunjungi, sebagaimana ucapan yang sudah pernah merasakan keindahannya bak lukisan. Mungkin sama indah dan romantisnya dengan kota kelahirannya di desa wisata Candirejo Borobudur Yogya. Bedanya, desa tempat tinggalnya penuh dengan keanekaragaman budayanya. Akh, betapa ia suka dengan hal-hal yang berbau romantis, termasuk negara dan kota romantis yang ia kunjungi. Seperti Paris, New Zealand bahkan kota Yogya, tanah kelahirannya.

Tak mudah jalannya untuk diterima sebagai pramugari. Sebagaimana usahanya agar terpilih menjadi awak cabin terbaik. Maskapai ternama dan terbesar di negerinya ini.  Meskipun pernah gagal tes masuk, namun bukan Rani namanya yang gampang menyerah begitu saja..  Keras kemauan dan keras kepala yang diturunkan alm ayahnya, begitu melekat pada jiwanya. Hingga tahun berikutnya ia kembali mencoba mengikuti seleksi dan akhirnya diterima di maskapai paling besar, sesuai impiannya. 

Asal kau tahu, tak cukup bermodalkan wajah rupawan dan kesempurnaan fisik saja, tapi lebih dari itu. Kecerdasan, berwawasan luas, ketekunan dan ketangguhan harus kau punyai. Selain modal keberanian. Bahkan sudah dimulai sejak awal seleksi dan menjalani pelatihan selama masa karantina begitu diterima. Karena sejatinya hidup tak hanya butuh kerja keras, tapi juga keberanian. Keberanian menghadapi hal apapun juga, termasuk menghadapi kematian. Yang setiap saat bisa mendatanginya selama dalam pesawat yang menerbangkannya bersama ratusan penumpang

Harus siap menjalani pelatihan fisik yang keras dan penuh dispilin. Olahraga teratur untuk tubuh mulai dari lari hingga harus berani latihan berenang di laut. Menjaga sewaktu-waktu pesawat kecelakaan dan jatuh di perairan. Belum lagi harus hafal luar kepala materi setebal ratusan halaman berbahasa Asing. Materi tentang tata cara bekerja di pesawat terutama bagaimanya caranya melakukan tindakan untuk keselamatan penumpang, bila keadaan darurat. Selama beberapa hari kepalanya cenat-cenut karena mumet. Namun ia harus tekun mempelajari dan menghafalnya,  meskipun di dera bosan.

“Selamat pagi Ran,” sapa Erna temannyateman satu profesi menjajari langkahnya dalam pesawat.

“Pagi, Er. Kayaknya sudah siap nih, menyambut penumpang. Moga gak ada lagi yang aneh-aneh ya, kayak kemarin.

“Siapa takut! Paling kalau ada yang nyebelin banget aku lemparin ke kamu.”

“Yeee, enak dikamu dong, enggak lagi-lagi deh,” Rani tertawa juga. Meskipun hatinya menyimpan kesal dari rumah. Siapa lagi kalau bukan pada ayah tirinya. Huh! Rasanya, dia tak betah berlama-lama, dan ingin segera pergi lagi meskipun baru pulang dari terbang. Padahal dulu dia selalu rindu pada rumah masa kecilnya itu, meskipun tanpa kehadiran seorang ayah. Sekarang memang dia memiliki ayah, tapi ayah tiri yang selalu membuatnya makin malas pulang ke rumah. Biasanya begitu sampai, dia langsung mengunci diri di kamarnya sambil mendengarkan musik. Melepas lelah sembari merilekkan pikiran dan tubuhnya sejenak. Yah, hanya sejenak.

Para penumpang mulai berdatangan satu persatu memasuki pesawat. Dan, mari kita lihat pertunjukan apalagi yang akan ia saksikan dari ulah para penumpang.

“Tolong masukkan tas-tas saya ke bagasi ya Mbak,” perintah seorang perempuan muda dengan santainya. Satu tas dengan berat lumayan, dan satu lagi dengan berat super lumayan. Arggggghhhh!

Rani tak habis pikir, mengapa masih saja ada penumpang yang mau repot-repot membawa banyak beban ke dalam pesawat. Hellow.. Apa kabar jatah bagasi 20 kg untuk tiap orang? Kalau semua bawaan di tenteng ke atas pesawat. Kecuali memang sudah kekurangan jatah bagasi yang memang dibatasi. Bukankah lebih enak masuk ke pesawat sambil melenggang dengan sebuah tas ringan dan tidak bikin ribet? Tentu saja Rani hanya bisa membathin saja, sembari menaruh tas-tas tersebut dengan segera. Namun dia harus mencari cara untuk tas yang satunya lagi, karena cukup berat untuk diangkat sendirian ke bagasi atas. Apa sih isinya? Gerutu Rani tak habis pikir.

“Biar saya bantu Mbak.” Tiba-tiba seorang pria bertopi kupluk, dengan alis yang berjejer tegas dan berambut agak gondrong menawarkan bantuan. Demi melihatnya meringis karena keberatan. Baru kali ini ada penumpang yang berbaik hati. Biasanya sih, lebih banyak menyusahkannya. Hohoho.... Harusnya kan yang punya tas ikut ngebantuin naruh tasnya sendiri. Kecuali kalau dia tiba-tiba berubah menjadi manula dan seorang ibu.

 “Oh, tidak usah terima kasih karena ini sudah tugas kami sebagai awak cabin,” sindirnya sambil melirik wanita muda yang langsung duduk tanpa merasa bersalah. Tasnya ringan kok ya Mbak? Sindir Rani lagi.

“He-eh ringan kok,” jawab wanita dengan dandanan modis tersebut cuek

“Kalau ringan, coba Mbak masukin sendiri yah, soalnya saya mau membantu penumpang yang lain. Kebetulan ibu di ujung sana sepertinya butuh bantuan saya, jawab Rani tak kalah cuek sambil tersenyum penuh kemenangan. Meskipun dia sudah belajar tekniknya agar barang yang diangkat tidak terasa berat dan bikin badan sakit-sakit. Tapi ia hanya mau melakukannya bila seorang ibu dan seorang bapak yang sudah tidak muda lagi yang memintanya.

“Bu, tas saya jangan di timpa seenaknya dong. Soalnya ada sandal mahal yang baru saya beli di dalamnya. Kalau rusak dan lecek apa ibu mau tanggung jawab?”  suara tinggi seorang penumpang wanita dengan dandanan sedikit menor, berhasil membuat seorang ibu merasa terpojok. Rani tak ingin membiarkan hal semena-mena tersebut kian membuat sang ibu menjadi kian tersudut.

“Maaf ya Bu, kalau memang sandalnya berharga mahal, apa tidak lebih baik ibu pake saja? Agar semua penumpang tahu kalau Ibu punya sandal mahal dan bagus,” jawab Rani lagi-lagi dengan memasang senyum, meski hatinya gondok setengah mati.

Si Ibu menor pun mendengus kesal lalu diam dan kembali duduk. Entah merasa malu atau tersindir. Yang jelas, Rani sudah berhasil menskak mat dirinya tanpa tedeng aling-aling meskipun sambil tetap memasang senyum. Sementara Rani segera berlalu dari insiden yang menyebalkan pagi ini di pesawat. Hah! Namun tidak semua penumpang bersikap menjengkelkannya. Masih banyak kok penumpang yang tahu bersikap manis dan sopan, apalagi yang sudah biasa terbang dan travelling. Tak bakal belagu deh! \

Lagian, apa sih yang harus disombongkan? sekaya dan sefamous apapun kita, toh tetap sama-sama mengeluarkan kotoran yang sama baunya.  Rani tak cukup sekali mendapati penumpang yang berpenamilan wah, tapi begitu masuk toilet ketahuan joroknya. Saat seenaknya membuang tissu bekas pipis, yang kumannya bisa menyebar kemana-mana. Belum lagi ada yang tidak peduli sehabis memakai wastafel, dibiarkan begitu saja tergenang tanpa di keringkan dahulu. Penampilan kota tapi perilakunya udik, bisa ia temukan selama bertugas menjadi awak cabin. Tentu saja tidak berlaku pada semua penumpang pesawat, namun pasti ada satu dua yang menunjukkan sifat aslinya selama dalam perjalanan. Yaitu sombong, jorok, atau yang sopan dan rewel sekalipun.

Rani sudah bertahun-tahun menjalani profesi yang sangat ia cintai ini, lengkap dengan susah senangnya. Namun yang paling susah diantara semuanya adalah saat ia harus selalu tersenyum ramah dan terlihat bahagia di depan para penumpang pesawat. Sebagai salah satu keharusan bagi seorang pramugari karena penumpang adalah raja yang harus selalu dilayani.  Padahal bila sedang gundah, ia sulit menutupinya dari siapapun.. Dan ia perlu latihan keras untuk itu, hingga lama-lama terbiasa. Memasang senyum meskipun hati sedang tidak ingin tersenyum adalah suatu hal luar biasa yang bisa kita lakukan bukan? Yang pasti bukan senyum penuh kepalsuan karena harus tulus untuk melayani.

Tak hanya sampai disitu, kerap ia menemukan pemumpang yang ngeyel bin rewel di pesawat. Stok kesabarannya harus ia charge terus. Padahal aslinya ia orang yang kurang sabaran dan mudah frustrasi menghadapi orang yang sulit diberitahu. Misalnya saat ada perintah harus mematikan Handphone dan Android apapun, selama pesawat akan Take Off dan Landing. Namun ada saja penumpang yang tanpa merasa bersalah tetap menyalakan gadgetnya. Padahal ini sangat berpengaruh besar pada keselamatan diri orang tersebut dan penumpang lainnya. Namun apapun resiko yang harus ia jalani, ia sangat mencintai profesinya ini. Apalagi saat pesawat mendarat dengan selamat dan penumpang merasa nyaman selama penerbangan. Tak perlulah ucapan terima kasih dan seulas senyuman manis yang menurutnya terlalu mewah bagi pramugari sepertinya. Cukup keselamatan dan kepuasan penumpang selama dalam perjalanan hingga sampai di tujuan. Sebuah kepuasan yang tak bisa ia nilai dengan sejumlah materi, berapapun besarnya.

Pria bertopi kupluk cokelat susu, tersenyum geli di dalam hati. Diam-diam dalam hatinya muncul kekaguman melihat Pramugari di depannya. Dia pun memikirkan cara bagaimana agar mengenalnya lebih jauh lagi. Dari kursinya, dia masih asyik mengamatinya melayani beraneka ragam polah penumpang. Senyum pria berbibir tipis maskulin itu tak jua pergi. Hatinya tiba-tiba bersenandung menyaksikan seorang wanita muda, berwajah tegas dan terkesan mandiri namun lembut. Tentu saja lebih dari itu dia juga cantik dengan mata bulat cerlingnya yang sedikit sayu. Baru kali ini dia peduli pada sosok pramugari dalam pesawat yang selalu ia naiki. Biasanya sih setelah memasukkan tas ke bagasi dia langsung memejamkan mata dengan cueknya. Berharap begitu bangun pesawat sudah mendarat di Jakarta.

“Chieken or Lamb?” Pramugari lain tiba-tiba menyadarkannya dari pengamatan diam-diamnya.

“Lamb,” jawabnya berusaha membuka mata. Pramugari tersebut segera memberi pesanan yang ia minta.

            “Coffee or Tea?” tanya pramugari lagi.

            “Mineral Water Please.” jawabnya sambil menyantap makan siangnya dengan lahap. Sang pramugari pun memberikan apa yang ia minta, sebelum akhirnya permisi dengan senyum semanis permen di bibir mungilnya.  Setelah selesai makan, ia pun kembali memejamkan matanya. Tapi sulit, karena sosok pramugari bermata indah dan berhidung bangir tersebut kembali mengusik. Ia putuskan untuk mendengarkan musik lewat headphonenya. Dan hanyut dalam alunan lagu Better Man nya Robbie Williams.

            Send someone to love me, I need to rest in arms Keep me safe from harm in pouring rain Give me endless summer, Lord I fear the cold Feel I'm getting old before my time As my soul heals the shame, I will grow through this pain Lord I'm doing all I can to be a better man

Malam harinya, pesawat mendarat mulus di Bandara Kuala Lumpur. Kebetulan bagi para penumpang diberi fasilitas untuk menginap semalam di hotel bandara. Sebab pagi harinya baru perjalanan dilanjutkan kembali. Ia pun segera mencari kamarnya dengan no 305. Segera ia gesekkan kunci kamar yang tipis berbentuk kartu atm. Kamar pun otomatis terbuka dengan sendirinya. Tanpa menunggu lagi, segera membaringkan tubuhkan diatas kasur. Dan tertidur dengan pulasnya hingga..

Kia Ora! Akhirnya setelah menempuh penerbangan Jakarta-Kuala Lumpur-Christchurch selama 10 jam-an, Rani bernafas lega. Ia dan penumpang lainnya sampai juga di negeri Kiwi yang terkenal keindahannya bak lukisan. Negara yang sudah lama ia impikan, kini tak hanya ada dalam hayalannya saja. Meskipun ia seorang pramugari dan sudah terbang ke berbagai negara. Namun semua penerbangan yang membawanya, baru singgah ke negara-negara Eropa. Itu pun tak puas berkeliling lama, karena yang terpikir begitu sampai hanya ingin segera istirahat di hotel. Membuka koper dan mengeluarkan pakaian kotor. Lalu di pagi buta kembali mengisi koper dengan pakaian bersih. Bahkan matanya pun masih setengah terpejam, saking ngantuknya. Akibat sampai larut malam, dan hanya bisa tidur 2-3 jam saja.

Resiko menjadi pramugari yang harus selalu siap kapanpun. Bahkan di saat lebaran, dimana seharusnya ia berkumpul bersama keluarga. Tapi harus rela masih berada di atas awan bersama si burung besi, bila dirinya kebagian jadwal terbang. Dia pun kembali memasang senyum di depan pintu turun, dan kembali bersitatap dengan lelaki bertopi kupluk yang juga hendak turun. Memasang senyum semanis mungkin ke arahnya dengan penuh makna. Dan secara tak terduga tanpa basa-basi

“Boleh saya minta no telephonenya Mbak?”

 To the point sekali penumpang satu ini pikirnya. Tak ayal, Rani gelagapan juga dan hanya membalas dengan tersenyum. Namun tiba-tiba Erna memberikan catatan berisi no Hpnya tanpa persetujuan. Tak perduli mata Rani mendelik keki.

“Erna!” desisnya sambil menginjak kaki rekannya itu. Erna malah tertawa menang dan pura-pura tak mendengar rasa keberatan dan tidak sukanya. Si cowok berwajah simpatik dihadapannya malah membalas

“Terima kasih Mbak?” sambil berlalu dan menatapnya genit. Rani spechless....

Matahari di musim panas yang bersinar , menyambut kedatangannya. Namun suhu udara tetap saja dingin. Ia pun merapatkan jaket beludrunya. Musim panas Di New Zealand tidaklah sama dengan musim panas di negaranya Indonesia, yang benar-benar terik. Tak ada dinginnya sama sekali, bahkan hembusan angin di negeri Kiwi ini pun ikut terasa dingin menyentuh kulit kuning langsatnya.   Meskipun jaketnya tak mampu memberikan kehangatan. Entah mengapa, tiba-tiba ia begitu menikmati udara dingin dan suasana kota Christchurh yang terasa sangat bersahabat.


#BlogToBook

4 komentar:

  1. Saya sangat menikmati aekali setiap rangkaian katanya. masih agak jarang cerita fiksi yang mengedepankan dan titik poin sebuah profesi

    BalasHapus
  2. Bagus tuh si Rani berani bilang ke ibu yang arogant itu biar dia pake itu sendal mahal..Mahal juga kita nggak perlu tau ya kan... :D
    Nice story :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih Dewi moga bisa saya tamatin nih cerita:)

      Hapus
  3. sie dan rani makasih banget yah dah mengunjungi rumahku yg sederhana ini:)

    BalasHapus