Senin, 16 Januari 2017

Rindu Yang Tak Pernah Diam


Bandara Soekarno Hatta terlihat cerah pagi ini, secerah wajah Rani yang berwarna kuning langsat. Rambut hitam bergelombangnya tergelung indah dan rapi.  Rani melangkah dengan percaya diri menuju si burung besi. Tempatnya bertugas selama beberapa tahun ini sebagai salah satu awak cabin Garuda. Tubuhnya yang mungil namun proporsional dengan tinggi 158 cm, bergegas menuju pintu pesawat. Akh, kurang 1 cm saja tingginya, maka tak mungkin ia bisa bekerja disini sebagai seorang pramugari bintang 5.

Penghargaan yang ia dapatkan sebagai best cabin crew, adalah sebuah kebanggaan sekaligus beban baginya. Untuk lebih menjaga kinerjanya sebagai pramugari yang senior dan sudah diperhitungkan. Segera ia bersiap-siap menaiki pesawat, sebelum menyambut penumpang yang akan berangkat menuju Christchurch, salah satu kota terbesar di Auckland. Dimana sebelumnya penerbangan singgah dulu di Kuala Lumpur.  Negara yang ingin selalu ia kunjungi, karena terpesona oleh kehangatan, kenyamanan, keromantisan dan keindahannya bak lukisan. Sama indah, hangat, romantis dan nyamannya dengan kota kelahirannya di desa GiriTengah Borobudur Yogya. Bedanya, desa tempat tinggalnya penuh dengan keanekaragaman budayanya. Akh, betapa ia suka dengan hal-hal yang berbau romantis, termasuk kota-kota romantis yang ia kunjungi. Seperti Paris, New Zealand bahkan kota Yogya, tanah kelahirannya.

Tak mudah jalannya untuk diterima sebagai pramugari. Sebagaimana usahanya agar terpilih menjadi awak cabin terbaik. Maskapai ternama dan terbesar di negerinya ini. Garuda Airways! Meskipun pernah gagal tes masuk, namun bukan Rani namanya yang gampang menyerah begitu saja. Keras kemauan dan keras kepala yang diturunkan ayahnya, begitu melekat pada jiwanya. Hingga tahun berikutnya ia kembali mencoba mengikuti seleksi dan akhirnya diterima di maskapai paling besar, sesuai impiannya. Asal kau tahu, tak cukup bermodalkan wajah rupawan dan kesempurnaan fisik saja, tapi lebih dari itu. Kecerdasan, berwawasan luas, ketekunan dan ketangguhan harus kau punyai. Bahkan sudah dimulai sejak awal seleksi dan menjalani pelatihan selama masa karantina begitu diterima.

Harus siap menjalani pelatihan fisik yang keras dan penuh dispilin. Olahraga teratur untuk tubuh mulai dari lari hingga harus berani latihan berenang di laut. Menjaga sewaktu-waktu pesawat kecelakaan dan jatuh di perairan. Belum lagi harus hafal luar kepala materi setebal ratusan halaman berbahasa Asing. Materi tentang tata cara bekerja di pesawat terutama bagaimanya caranya melakukan tindakan untuk keselamatan penumpang, bila keadaan darurat. Selama beberapa hari kepalanya cenat-cenut karena mumet. Namun ia harus tekun mempelajari dan menghafalnya,  meskipun di dera bosan.

Namun yang paling susah diantara semuanaya adalah saat ia harus selalu tersenyum ramah dan terlihat bahagia di depan para penumpang pesawat. Sebagai salah satu keharusan bagi seorang pramugari karena penumpang adalah raja yang harus selalu dilayani.  Padahal bila sedang gundah, ia sulit menutupinya dari siapapun. Dan ia perlu latihan keras untuk itu, hingga lama-lama terbiasa memasang senyum meskipun hatinya sedang tidak ingin tersenyum. Yang pasti bukan senyum penuh kepalsuan karena harus tulus untuk melayani.

Tak hanya sampai disitu, kerap ia menemukan pemumpang yang ngeyel bin rewel di pesawat. Stok kesabarannya harus ia charge terus. Padahal aslinya ia orang yang kurang sabaran dan mudah frustrasi menghadapi orang yang sulit diberitahu. Misalnya saat ada perintah harus mematikan Handphone dan Android apapun, selama pesawat akan Take Off dan Landing. Namun ada saja penumpang yang tanpa merasa bersalah tetap menyalakan gadgetnya. Padahal ini sangat berpengaruh besar pada keselamatan diri orang tersebut dan penumpang lainnya. Namun apapun resiko yang harus ia jalani, ia sangat mencintai profesinya ini. Apalagi saat pesawat mendarat dengan selamat dan penumpang merasa nyaman selama penerbangan. Tak perlulah ucapan terima kasih dan seulas senyuman manis yang menurutnya terlalu mewah bagi pramugari sepertinya. Cukup keselamatan dan kepuasan penumpang selama dalam perjalanan hingga sampai di tujuan. Sebuah kepuasan yang tak bisa ia nilai dengan sejumlah materi, berapapun besarnya.


#BlogToBook

13 komentar:

  1. Gak bisa bayangin, gimana kalo pas stress berat dan bawaannya ingin nangis, harus diempet karena tugas ya... :D

    BalasHapus
  2. ya begitulah faktanya profesi pramugari kelihatan keren dari luar tapi tanggung jawab besar dipikul. Terima kasih teman2 atas kunjungannya:)

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. iya mbak inna salut ya, dan gak banyak yg tahu

      Hapus
  4. Aww dulu saya punya cita2 jadi pramugari tapi apa saya tinggi badan ngga mencukupi :p Suka dengan pramugari maskapai kita cantik2 dan ramah. Kalo maskapai luar ngga terlalu peduliin penampilan fisik dan ngga seramah maskapai kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ho oh toh mbak sari? saya baru tahu maskapai luar begitu

      Hapus