Mom Blogger Community

Mom Blogger Community
Member Of MBC

Jumat, 19 April 2019

Makhluk Tak Berdaya Yang Mengajarkanku Arti Keikhlasan



Berbagi itu tak menunggu mapan. Berbagi tak akan membuatmu jatuh miskin. Dan berbagi selain melembutkan hati dan mengasah rasa empati, juga akan mendapatkan ganjaran pahala di akhirat kelak dari Allah. So, #jangantakutberbagi


Banyak orang yang suka memelihara kucing karena binatang ini sangat lucu, manja dan menggemaskan. Namun ada juga yang kurang suka dan peduli pada binatang ini, termasuk diriku dulu. Tapi entah mengapa, tiba-tiba seekor anak kucing muncul di rumahku. Herannya walaupun aku tak peduli padanya, kucing ini enggan pergi dan betah di rumah kami. Lama-kelamaan muncul rasa kasihan padanya, saat melihat mukanya yang memelas itu. Aku pun tergerak untuk memberinya makan, padahal dulu tak perduli dan malah sering mengusir kucing yang masuk ke rumah. 


Awalnya kasihan, lama-kelamaan entah mengapa,  muncul rasa sayang pada kucing-kucing ini, yang tak jua mau pergi dari rumah alias betah. Disitulah aku sadar bahwa bukan aku yang memilih kucing ini, tapi dialah yang telah memilihku sebagai majikannya.  Akhirnya tanpa dikomando, setiap hari rajin kuberi makan dan selalu ingat membelikan ikan khusus buat mereka ketika ke pasar. Hari berganti hari, aku pun menjadi dekat dan sayang pada kucing-kucing di rumah. Sebaliknya kucing-kucing ini pun seperti tahu disayang dan diperhatikan olehku dan suami, hingga suka bermanja-manja pada kami, termasuk pada anak-anak. Ajaib memang, dari yang tidak suka kucing, diriku menjadi sayang dan perhatian. Bahkan rela menyisihkan uang belanja dan jatah bulanan  agar bisa membelikan kucing-kucing kami ikan.



Kucing-kucing kami pun tumbuh besar dan ada yang melahirkan banyak anak yaitu sampai 6 ekor. Sempat terpikir betapa makin repotnya aku, karena dengan bertambahnya kucing di rumah, berarti biaya untuk memberikan makannya juga bertambah. Tapi mau dibuang kok tidak tega yah. Akhirnya kupelihara semua walau agak rempong. Apalagi setelah agak besar, kucing yang kuberi nama Kittun ini melahirkan lagi, hingga berjumlah sebelas ekor di rumah. Uang belanja bulanan sempat terganggu dan naik turun. Akibat pengeluaran yang bertambah hingga aku ingin menyerah. Namun niatku dan suami untuk membuang kucing lagi-lagi tak sampai hati kami lakukan. Sementara disisi lain aku merasa tak enak hati pada pak suami, karena uang belanja yang cepat habis sebelum gajian. Pak suami sendiri juga sudah berusaha maksimal memberikan gajinya untuk biaya hidup kami sekeluarga.


Belum hilang kepusingan kami, tiba-tiba suatu malam terdengar suara anak kucing mengeong-ngeong dengan begitu memelasnya. Saat kami hampiri, terlihatlah 2 anak kucing yang baru lahir di dalam kantong kresek. Astaghfirullah! Siapa yang tega gerangan membuang anak-anak kucing ini di depan rumah kami? Bahkan ari-arinya saja belum lepas semua, yang lebih miris lagi, dibuang tak bersama induknya, padahal mereka masih harus menyusui. Saya dan Pak suami pun lagi-lagi tidak sampai hati, lalu memberikannya susu khusus kucing pakai botol dot kecil. 



Suatu hari saya kembali diikuti seekor anak kucing di pasar yang tengah mengeong-ngeong lapar. Lagi-lagi saya tidak tega dan memutuskannya untuk membawanya pulang. Begitu juga Pak suami yang juga tidak tega mendapati seekor anak kucing mondar-mandir di jalan dengan tubuh yang kurus dan perutnya kempes karena tidak makan. Sementara kendaraan roda dua dan roda empat lalu lalang tak peduli, hingga hampir menabrak anak kucing yang kebingungan ini. Pak suami pun segera mengambil dan membawa pulang anak kucing tersebut, takut ini kucing ketabrak motor atau mobil. Akhirnya jumlah kucing di rumah pun kian bertambah hingga belasan ekor. 

Di tengah keraguanku akan niat untuk terus berbagi pada hewan tak berdaya ini, aku pun di sadarkan oleh kisah seorang bapak penyayang kucing. 



Beliau rela menyisihkan uangnya demi bisa memberikan makan kucing-kucing yang ada di pasar. Padahal beliau hanya seorang penjual sandal jepit di kaki lima. Subhanallah! Sebagai ganjaran dari Allah, Bapak tersebut mendapatkan rejeki umroh dari salah satu instansi. Cerita lengkapnya bisa ditonton di link Youtube ini.


Bahkan ada seorang ibu rumah tangga yang hidup sederhana, namun sanggup memelihara kucing di rumah hingga 200 ekor. Semua biaya perawatan untuk kucing mulai dari pengobatan hingga makannya, diambil dari kocek sendiri, meski ada yang memberikan donasi tapi hanya sedikit. Ckckckckc!...Salut! namanya Rumah Kucing Parung, yang juga menerima dengan senang hati bila ada yang mau donasi ke rek berikut



Sebab beliau harus membeli puluhan kilo makanan kucing kering dan basah setiap harinya.



Ternyata perjuangan dan pengeluaran saya dalam merawat kucing tidak ada apa-apanya dibandingkan Bapak penjual sandal diatas dan ibu yang sepenuh hati ini meski bukan orang kaya. Kisahnya tonton di link Youtube berikut. 





        
Sejak itu aku hanya bisa  berdoa sambil meyakini diri bahwa tidak akan jatuh miskin bila aku terus berbagi pada semua mahkluk Tuhan, salah satunya kucing. Alhamdulillah Allah membukakan jalan dengan kutemukannya sebuah komunitas pecinta kucing. Dimana grup ini bisa saling menghibahkan kucing yang sudah terlalu banyak dan tidak sanggup lagi kita urus. Para anggota yang memang penyayang kucing, akan dengan senang hati mengadopsi kucing yang kita berikan dengan merawatnya sepenuh hati. Akhirnya beberapa kucing aku lepaskan agar lebih terawat secara maksimal. Walau agak berat dan sedih karena sudah terlanjur sayang. Namun daripada dibuang ke jalan, kasihan nasibnya akan terlantar pikirku. Jadi bagi teman yang menemukan kucing di jalan atau sudah terlalu banyak kucing di rumahnya, maka bisa bergabung di grup ini. Berikut link fb Komunitas Adopsi Kucing


Ibu ini tiap hari ke pasar hanya untuk mencari sisa2 makanan buat kucing2 jalanan di rumahnya. Subhanallah

Setidaknya bila kita tidak mampu berbagi dengan uang,  bisa dengan imformasi yang bermanfaat, salah satunya info grup ini. 

  

Aku tahu, seberapa banyak pun memberi sesuatu pada kucing, tak akan pernah balas diberi oleh kucing. Walau ucapan terima kasih sekalipun. Belum lagi bila ada kucing yang buang kotorannya sembarangan. Rasa jengkel pasti pernah menghinggapi, namun tak pernah sampai terlontar niat untuk memarahi apalagi sampai memukul mereka. Tapi, begitulah cara Tuhan mengajarkanku makna memberi yang sesungguhnya, yaitu tanpa mengharapkan imbalan alias memberi tanpa pamrih. 


 Caby yang dirawat inap di klinik hewan, sebelum akhirnya meninggal

Jadi keikhlasanku dalam memberi benar-benar di uji. Berbeda bila aku memberi sesuatu pada temanku atau orang sekitarku, maka mereka bisa membalasnya di saat aku membutuhkan. Karena tak selamanya memberi barang harus mendapatkan imbalan barang juga. Sebagaimana memberi kucing ini makan, namun ia membalasku dengan membuat hati terhibur dan senang dengan kehadirannya.  



Soal rejeki, entah mengapa selalu ada saja lewat jalan manapun, ketika keuangan kami sudah mepet padahal harus tetap menyediakan makanan untuk kucing. Dari situlah saya semakin yakin bahwa tidak akan pernah kekurangan bila kita terus berbagi dengan ikhlas. Bisa dengan sedekah langsung kepada semua mahkluk Tuhan yang membutuhkan atau melalui lembaga yang menerima sedekah kita salah satunya yang saya tahu lewat salurkan donasi ke Dompet Dhuafa

Demi menekan populasi kucing di rumah, akhirnya kami putuskan untuk mensterilnya, agar tidak beranak pinak dan terancam tidak terurus. Selain kasihan dengan kucing betina yang capek melahirkan terus. Jadi selain berbagi dengan ikhlas dan tulus, kita juga harus berdoa, berikhtiar dan berusaha agar terus bisa berbagi. Sebab sebuah kebaikan sekecil apapun, akan dibalas oleh Tuhan dan bisa menjadi ladang pahala kita kelak di akhirat. Amin….


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #JanganTakutBerbagi yang diselenggarakan oleh DompetDhuafa


Jumat, 12 April 2019

Andaliman Rasa Kampung Halaman


Senang banget rasanya bisa kembali hadir di Almond Zucchini Cooking Studio. Dalam rangka mengikuti acara Andaliman Talkshow. Setelah sebelumnya pernah hadir juga di acara Talkshow bagaimana melestarikan hutan secara berkelanjutan yang diadakan oleh Yayasan Doktor Sjahrir.  Berikut oleh-oleh ilmu yang saya dapat dalam acara keren ini.




                                
 Napak Tilas Sejarah Andaliman


Bumbu yang sangat ajaib ini, lebih banyak dikenal oleh kalangan orang Batak. Maklumlah, tanamannya sendiri lebih banyak tumbuh di tanah Batak yaitu daerah hutan Danau Toba. Mengapa hanya di temukan di Danau Toba? Ternyata di masa lalu terjadi letusan vulkanik yang dahsyat. Bencana ini pun membawa berkah buat Andaliman bisa rumbuh liar di tanah kering yang tingginya bisa mencapai 1,5 meter. Dimana Andaliman muda memiliki warna hijau dan yang matang berwarna merah.  Sementara bila sudah kering akan berwarna hitam. Andaliman sendiri sangat cocok ditanam di hawa dingin dengan 2 cara yaitu penanaman dengan biji yang sudah matang dan kedua dengan cara Stek Pucuk. Hanya saja cara pertama persentase pertumbuhannya sangat kecil dan membutuhkan waktu lama dibandingkan dengan cara Stek Pucuk. Lebih bagus lagi di tanam di antara tanaman kopi karena kopi bagus menjadi pelindungnya.
                            


Rempah Ajaib Orang Batak


Butiran Andaliman tumbuh bergerombol dengan ranting-rantingnya yang halus. Setelah berbuah, bentuknya kecil bulat seperti merica. sehingga disebutlah sebagai mericanya orang Batak. Arti kata Andaliman sendiri yaitu tanaman cabai yang tumbuh di hutan. Dalam bahasa Inggris populer, disebut sebagai Sichuan Pepper..Aromanya yang unik dan wangi seperti buah lemon, sehingga dapat menghilangkan rasa amis pada ikan yang masih mentah.



Bumbu ini konon sudah dikenal oleh nenek moyang orang Batak, bahkan sebelum teknologi berkembang di tanah Batak, orang Batak sudah bisa menikmati berbagai masakan yang memakai bumbu Andaliman. Seperti ikan dan daging yang masih mentah yang disebut Dengke Naniura atau Manuk Naniura. Rasanya yang getir, sedikit pedas dan memiliki sensasi hangat,  berperan penting di dalam masakan ini yang di masak bersama bumbu kunyit dan asam jungga. Dan kini orang batak memakai Andaliman dalam masakan Arsik ikan, Tanggo-tanggo, Sangsang, Mi Gomak, Jagal Naniarsik dan berbagai olahan sambal seperti Sambal Rias dan Sambal  untuk daging panggang. Rasa getir atau Mangintir di lidah inilah yang memberi kesan dan kenikmatan sendiri bagi orang Batak. Sehingga tak heran, hampir semua masakan orang Batak memakai bumbu Andaliman.

Andaliman Rasa Kampung Halaman

Bagi orang Batak yang hidup di rantau, tentu sulit menemukan bumbu Rempah Andaliman yang ajaib ini. sekiranya ada, pastilah harganya sangat mahal sebab distribusinya cukup sempit dan hanya secara umum digunakan pada orang-orang keturunan Batak. Sehingga begitu menemukan makanan yang mengandung bumbu Andaliman, serasa ingat kampung halaman. Sehingga tepatlah bila dikatakan Andaliman yang ditemui di luar tanah Batak, rasanya mengingatkan akan kampung halaman. 


Adalah seorang Markus Sirait, pelopor budidaya Andaliman. 



Berusaha mengobati kerinduan para orang Batak yang hidup di rantau. Beliau berupaya membuat produk makanan khas dengan rempah Andaliman. Bahkan berusaha membuat produknya agar bisa mendunia. Dikenal sebagai pahlawan lingkungan dengan memiliki lahan 55 hektare yang ditanami berbagai tanaman. Mendirikan Taman Eden, kebun sekaligus lokasi wisata populer di Toba pada tanggal 29 Desember 2007. Beraneka jenis pohon, jalur tracking dan camping ground tersedia. Selain itu, Bank Pohon didirikan di Taman Eden 100 untuk mensuplai bibit-bibit ke kawasan danau Toba, dalam rangka penghijauan dan peningkatan ekonomi masyarakat. Taman Eden 100 menyediakan lokasi penanaman pohon bagi para tamu yang komitmen dalam pelestarian alam; bibit dan pamplet nama penanaman disediakan. Bapak Marandus Sirait pun mendapatkan berbagai penghargaan atas jasa dan terobosannya itu. Mulai dari Piala Kalpataru (Perintis Lingkungan) dari Presiden RI Thn 2005, hingga Piala Wanalestari dari Menteri Kehutanan 2010. Terakhir UGM Award 2013 dari Rektor Bpk Pratikno.


Demo masak dan icip-icip menu rempah Andaliman
 
Baginya “Lebih berharga menanam sebatang pohon daripada menyimpan sebatang emas di lemari besi.” 

Namun beliau berkata bahwa “Menanam itu mudah tapi yang sulit adalah memeliharanya.” 

Sehingga dibutuhkan kerja keras dan kemauan yang keras untuk menjaga kelestarian pohon dan tanaman, salah satunya Andaliman.

Misinya tidak hanya untuk tujuan bisnis, tapi juga demi pemulihan ekosistem serta meningkatkan ekonomi budaya lokal.

Ini Dia Keajaiban Andaliman



Selain mengandung berbagai vitamin, kalori dan mineral, Andaliman memiliki berbagai khasiat sebagai obat herbal yang alami. Jadi tidak hanya sebagai penyedap masakan saja. Adapun keajaiban Andaliman diantaranya :

 1. Sebagai antioksidan alami yang sangat baik untuk menjaga daya tahan tubuh terhadap segala serangan radikal bebas
2. Sebagai penambah darah
3. Melancarkan peredaran darah dan menghindari penggumpalan 
4. Menyehatkan mata dan menjernihkan pandangan
5. Menguatkan tulang dan gigi
6. Menjaga kinerja otak
7. Mencegah kulit wajah pucat
8. Melancarkan menstruasi 
9. Sebagai bahan untuk aroma terapi.



Andaliman Siap Go Internasional        

Dengan adanya distribusi produk rempah Andaliman baik di dalam maupun di luar negeri, tentu dapat mengobati kerinduan orang-orang Batak yang ada di rantau. Dimana sebelumnya masih sulit menemukan rempah ajaib khas Toba ini. Bagi orang Batak di rantau, menikmati produk Andaliman akan serasa berada di kampung halaman sendiri, Danau Toba. Sehingga tepatlah dikatakan Andaliman rasa kampung halaman. Pahit getirnya hidup di negeri orang, akan kembali terasa hangat dengan mencicipi bumbu Andaliman lewat variasi produk-produknya.